Indonesia Negara Besar, dengan 70% Lautan, 30% Daratan, Penduduknya mendiami Ribuan Pulau dari Sabang sampai Merauke. Dengan berbagai suku dan bahasa. Indonesia merupakan paru-paru dunia, karena hutan tropisnya yang lebat, luas, dan penuh beraneka ragam fauna, flora.Ditambah lagi kekayaan alam yang terkandung dilautan, daratan, dan juga Iklimnya yang bersahabat, Semua sumber enerji untuk menggerakkan pembangunan baik yang utama maupun alternatif tersedia diIndonesia, yang itu tidak akan habis hingga akhir zaman.
Sejak kemerdekaan dan silih bergantinya para Pemimpin, usaha-usaha untuk mensejahtrakan rakyat terus diperjuangkan. Peningkatan dan pemerataan pembangunan, baik ekonomi, sosial/budaya, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, karakter bangsa dan akhlaqul karimah terus dibangun, agar terjadi kesejahtraan dan kebaikan didunia dan juga diakhirat.
Pemilu 2014, adalah pemilu yang akan menentukan tahapan peralihan kekuasaan 5 tahunan secara demokrasi, bila para pemimpin yang terpilih tidak memiliki jiwa negarawan, maka yang akan terjadi adalah disharmonisasi antara komponen bangsa, yaitu memicu disintegrasi bangsa.
Dari hasil hitung cepat pemilu legislatif, maka tak ada satupun yang menjadi pemenang mayoritas (perolehan suara diatas 25%) yang mendominasi parlemen di DPR, maka peta koalisi menjadi jalan damai antar kekuatan partai politik. Bila peta koalisi yang terbangun merugikan rakyat maka rakyat akan apatis untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Dan ini akan menjadi bahaya LATEN. Terlebih GOLPUT pada Pileg 2014 telah mengindasikan hal-hal tsb.
Berangkat dari pemikiran diatas maka saya berijtihad, bahwa kita menghargai semua kader-kader terbaik bangsa yang akan berjuang merebut kursi R1 dan R2, yang akan memimpin bangsa ini kedepan. Mereka semua kader terbaik bangsa ini, Tetapi kita tidak menghendaki adanya campur tangan Asing untuk menentukan Para Pemimpin Bangsa ini, yang tentu mereka akan menitipkan agenda programnya. Ini Sangat Berbahaya. Kita tidak menghendaki para pemimpin yang membelelo pada kepentingan asing, tetapi kita juga tidak menghendaki para pemimpin kita yang tidak bisa bekerja sama dengan Negara Asing.
RHOMA -JK adalah duet kader pemimpin profesional dibidangnya masing-masing, dimana mereka mewakili kekuatan antar suku bangsa, antar budaya, antar strata sosial-ekonomi baik bawah, menengah, dan atas. Bila adikuasa Amerika saja menghargai pekerja seni ( Artis/Aktor-Seniman Musik, Bintang Film )
menjadi Presiden Amerika ( Ronald Reagan ), mengapa kita yang notabene menciplak budaya demokrasinya tetapi kita alergi menjadikan Pekerja seni yang baik menjadi R1.
Yusuf Kalla adalah kader pemimpin yang benar-benar memperjuangkan kesejahtraan masyarakat, menjadi juru damai yang baik dalam menyelesaikan konplik-konplik yang terjadi dimasyarakat, ahli dan praktisi ekonomi, anti korupsi, taat hukum,punya segudang pengalaman baik bidang politik,sosial, ekonomi,agama, dan R2 yang sangat berhasil, saat berduet dengan SBY.
Bila masyarakat antipati terhadap PILPRES 2014,
maka DUET RHOMA - JK menjadi Solusi terbaik buat kepepimpinan bangsa ini kedepan.




